Minggu, 07 Oktober 2018

BAHASA ASING VS BAHASA INDONESIA

Yuni Candra Eka Putri Purnaning
STr. Keperawatan Lawang
yunicandra1999@gmail.com


Bangsa Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke memiliki banyak perbedaan, salah satunya adalah bahasa. Setiap suku memiliki bahasa yang khas, hal ini menjadi sebuah kendala untuk mempersatukan bangsa Indonesia. Upaya mengatasinya, tercatat dalam sejarah, bahasa Indonesia resmi menjadi bahasa pemersatu sejak tahun 1928 dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Seiring perkembangan jaman masyarakat Indonesia semakin fasih berbahasa Indonesia dengan baik. Namun, pengaruh globalisasi sangat kuat, sehingga muncullah bahasa gaul atau bahasa pergaulan dikalangan remaja. Selain itu, bahasa asing juga mulai masuk ke Indonesia dan meracuni otak generasi muda melalui berbagai macam cara seperti, film, kata-kata mutiara di media sosial, dan musik.
Dikutip dari Wikipedia, bahasa gaul atau bahasa ABG adalah ragam bahasa Indonesia nonstandar yang lazim digunakan di Jakarta pada tahun 1980-an hingga saat ini menggantikan bahasa prokem yang lebih lazim dipakai pada tahun-tahun sebelumnya. Seperti : aku → gue; kamu → lo; habis → abis; kalau → kalo; begini → gini; dan lain sebagainya. Tanpa disadari hampir semua remaja menggunakan bahasa gaul, sehingga akan mengalami kesulitan saat mengerjakan tugas sekolah dengan bahasa baku.
Tidak hanya itu, bahasa asing juga sangat mempengaruhi rasa cinta generasi muda terhadap bahasa Indonesia. Remaja lebih suka dan merasa lebih hebat jika dapat berbicara bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Korea. Terlihat jelas di sosial media pengungkapan isi hati menggunakan bahasa asing. Saat berbicarapun, dengan mudahnya terucap kata “Saranghae, Aigoo, Morning, Oh My God” dan masih banyak lagi yang lainnya. Mirisnya, ada generasi muda Indonesia yang tidak hafal lagu-lagu nasional namun begitu fasih dalam menyanyikan lagu berbahasa asing.
Saat ini di Indonesia juga banyak tempat wisata atau tempat makan yang menggunakan bahasa asing. Secara tidak langsung hal ini menjadi salah satu penyebab terkikisnya rasa cinta generasi muda terhadap bahasa Indonesia. Sebagai seorang mahasiswa, ada beberapa yang tidak mau masuk jurusan bahasa Indonesia karena dianggap membosankan dan tidak keren. Berbeda dengan jurusan bahasa Inggris, bahasa Jerman, atau bahasa Arab akan dinggap jauh lebih hebat dan membanggakan. Padahal, tidak sedikit orang asing yang tertarik dan mau belajar bahasa Indonesia. Seharusnya yang lahir dan hidup di tanah Indonesia, bisa bangga fasih berbahasa Indonesia dengan benar dan cinta terhadap bahasa Indonesia, serta terus menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar